Tampilkan postingan dengan label guru. Tampilkan semua postingan

Tuuuu Gaasss

(RE-Upload catatan tahun 2012, untuk murid-murid yang sedang mengerjakan tugas)

apa yang kamu rasakan saat mendengar kata "tugas.."..?? mungkin ada yang bete, kesel, sebal, tapi mestinya kita harus bahagia dan bersyukur. iya.. iya... idealis..

saya pernah menjadi mahasiswa, dan jangan dikira mahasiswa itu kayak di sinetron yah.. yang tiap adegan cuma datang ke kampus, gaya-gayaan, makan-makan, pacaran, pulang, atau kayak di pemberitaan televisi, mahasiswa itu demooo terus, debaaatt terus, padahal aslinya mahasiswa itu sodaraan erat sama yang namanya tugas. Nah, selama itu pula ada sebagian orang yang ikhlas dengan tugasnya (mengerjakan, laporin ke dosen, dan dapat nilai A), dan ada juga yang gak ikhlas (nggak dikerjakan, diumpetin, bohong, dapat nilai E- dari dosen), pilihannya antara dua ikhlas dan nggak ikhlas, pertanyaannya kalo nggak ikhlas, ngapain kuliah mahal-mahal cuma buat numpukin tugas..???

atau, saya pun pernah menjadi karyawan, dan tepatnya lagi bagian marketing. Kamu pasti tahu kan, yang namanya marketing itu tugasnya bagaimana..?? udah makanan sehari-hari berantem dengan yang namanya target. keoptimalan kinerja kita dinilai dari sejauh mana kita memenuhi, atau setidaknya mendekati target, lagi-lagi kita ketemu hal ini, ada yang ikhlas (dikerjakan sungguh-sungguh, penuhi target, dapat promosi jabatan, plus bonus gaji) dan ada juga yang nggak ikhlas (malas, banyak alesan, gak sampai target, dimaki atasan, dipecat).

hari ini, saya memproklamirkan diri sebagai seorang entrepreneur (gayanya, padahal aslinya pedagang.. :P) dengan maksud meminimalisir tugas itu tadi, eeeehh ternyata di bidang ini pun tetap saja ada tugas. Tugas seorang entrepreneur itu memang nggak ada yang menilai langsung, tapi tetap saja pelanggan, konsumen, dan relasi menuntut keprofesionalan kita sebagai pengusaha, belum lagi strategi marketing, pembukuan, pengeluaran.

The Real of Task, name is Life.

Ya, ilustrasi diatas hanya terjadi dalam sebuah sistem yang sengaja didesain oleh manusia, dunia pendidikan, pekerjaan, dan perdagangan, memang memiliki karakteristik sistem yang menghadirkan serangkaian tugas demi tugas untuk diselesaikan, akhirnya ada punishment dan ada reward, ini hukum baku yang saya yakin disemua sistem ada, tak terkecuali dalam sistem kehidupan.

Semenjak kita terlahir kedunia, kita sudah disuguhi tugas-tugas yang tidak bisa dihindari, baru lahir kita diminta untuk membuka mata, di ajak ngobrol, berdiri, berjalan, berlari, memegang, dan sebagainya, hasilnya..?? ada yang jadi atlet, tentara, pemain bola, penari, dari modal hanya latihan berjalan saat bayi. Bayangkan jika ada orang tua yang bilang," Ya udah nak gak apa-apa, tidur saja gak usah jalan.. susah.." mungkin anak yang sedari bayinya seperti itu, ia akan cacat disaat dewasa kelak.

terus menerus terjadi perkembangan, seiring penambahan usia, pola fikir, dan ilmu, setiap tugas akan bergerak meningkat dinamis. Tugas SD tidak mungkin sama dengan tugas di SMA, tugas seorang guru tidak akan pernah sama dengan tugas tentara, tugas OB tidak akan sama dengan tugas direktur, semua ada porsinya, semua ada tingkatannya, begitu pun dengan "bonus" dan "hukuman" nya, ada bagian-bagiannya tersendiri.

maka bersyukur buat kamu yang hari ini sedang dihajar terus-menerus oleh berbagai tugas, dari mana pun itu, karena itu berarti kamu sedang diuji, di upayakan kebaikannya oleh Allah untuk bersegera menjadi pribadi yang baik hatinya.

Sahabat saya yang baik hatinya, izinkan saya untuk berkata dan mengajak mari kita bersyukur, mensyukuri segala tugas yang ada dihadapan, ikhlaskan diri, dan pantas diri atas reward yang telah disiapkan Tuhan.

Supeerr sekali.. :P

Wallahu A'lam

Coming Soon : Jurnal Guru Digital

 Jurnal Guru Digital - Saya sudah lama merencanakan hal ini sebenarnya, berawal dari kebingungan saya ketika awal mengajar informatika. Berbagai kanal dan akun saya siapkan, namun saya belum menemukan sebuah optimasi yang tepat untuk ini. Jadi apakah tahun ini ? tunggu saja.


Menjadi Guru = Menjadi Pembelajar Sepanjang Usia

9 tahun lamanya saya belajar menjadi guru, mulai dari level dasar yang sama sekali tidak tahu apa-apa, hingga berakhir menjadi wakil kepala urusan kurikulum, dan hari ini, saya kembali ke level dasar ketika ditugaskan di sekolah yang baru. Tidak jadi masalah sebab, Menjadi guru artinya menjadi orang yang siap terus belajar.

Sejak meniti karir sebagai seorang guru, saya selalu menyadari betapa tantangan itu selalu hadir dan tidak pernah habis. Mulai dari karakter murid yang berubah atau berganti, hingga dalam skala global bagaimana covid menyerang dan sistem pendidikan harus bermanuver agar bisa tetap bertahan.

Beruntungnya adalah, saya adalah guru dengan background IT (hingga saya mengampu mapel Informatika dan Teknologi Jaringan Komputer dan Telekomunikasi), sehingga berbagai tantangan tersebut bisa saya jawab dengan bantuan teknologi. Setidaknya untuk beberapa aspek tertentu. 

Teknologi membantu saya dalam menghadirkan sistem pembelajaran yang efektif dan efisien. Apalagi dengan konsep Student Centered-Learning, dimana guru hanya berperan sebagai fasilitator. Maka kehadiran teknologi, yang juga bagi murid Gen-Z dan Gen-Alpha ini adalah sebuah fasilitas yang mereka kuasai. 

Kehadiran guru, dengan teknologi, dan karakteristik murid yang sedemikian rupa, menghadirkan sebuah pola pembelajaran yang unik sekaligus tantangan bagi kami para guru, untuk menghadirkan pembelajaran yang menyenangkan sekaligus berkesan. 

Tantangan ini semakin menarik dengan hadirnya Deep Learning pada era pemerintahan yang baru. Ini bukan sekedar kebijakan politis, tapi ini, sekali lagi, adalah sebuah tawaran untuk menjembatani 3 aspek yang tadi disebutkan diatas. 

Jurnal Guru Digital 

Maka akhirnya saya ingin menghimpun, berbagai catatan, temuan, dan bahkan hal-hal baik yang pernah saya lakukan agar bermanfaat bagi siapapun yang membutuhkan. Saya masih perlu belajar, dan melakukan beberapa optimasi agar informasi ini terkemas dan tersaji dengan menarik dan bermanfaat bagi sebanyak-banyaknya orang. 

Berikut ini rencana yang akan saya matangkan dalam beberapa hari kedepan, mohon doa dari semuanya. 

Kunci belajar sukses ? teruslah belajar sepanjang masa

 

Di era digital yang serba cepat seperti sekarang, kemampuan untuk terus belajar sepanjang masa menjadi kunci utama untuk bertahan dan berkembang. Konsep ini bukan hanya sekadar slogan, melainkan sebuah kebutuhan yang nyata, baik bagi anak-anak, remaja, dewasa, maupun lansia. Dunia yang terus berubah menuntut kita untuk terus memperbarui pengetahuan, keterampilan, dan cara berpikir.

Apa Itu Belajar Sepanjang Masa?

Belajar sepanjang masa (lifelong learning) adalah proses belajar yang berlangsung seumur hidup. Tidak terbatas pada jenjang sekolah atau universitas, belajar sejati terjadi setiap hari—di rumah, di tempat kerja, bahkan di media sosial. Proses ini mencakup pengembangan diri secara intelektual, emosional, sosial, dan spiritual.

Belajar bukan hanya tugas siswa di sekolah. Orang tua belajar menjadi pendidik yang baik bagi anak-anaknya. Guru belajar memahami karakter siswa yang semakin kompleks. Pengusaha belajar menyesuaikan bisnis dengan tren digital. Bahkan seorang pensiunan pun bisa belajar keterampilan baru untuk mengisi masa tua dengan produktif.

Mengapa Belajar Sepanjang Masa Penting?

  1. Perubahan Teknologi yang Cepat
    Dalam 10 tahun terakhir, teknologi telah mengubah hampir seluruh aspek kehidupan manusia—dari cara bekerja, berbelanja, hingga berkomunikasi. Tanpa kemauan untuk terus belajar, seseorang bisa tertinggal dan kehilangan daya saing.

  2. Pasar Kerja yang Dinamis
    Banyak pekerjaan yang hilang karena otomatisasi, tapi banyak pula pekerjaan baru yang muncul. Hanya mereka yang mau belajar sepanjang masa yang mampu beradaptasi dan mengambil peluang.

  3. Pengembangan Diri dan Kesejahteraan Mental
    Belajar bukan hanya soal karier. Proses belajar juga dapat meningkatkan kepercayaan diri, memberi rasa pencapaian, dan menjaga kesehatan mental. Belajar hal-hal baru memberi energi positif dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

  4. Tuntutan Iman dan Tanggung Jawab Sosial
    Dalam konteks religius, seperti dalam Islam, belajar adalah ibadah. Rasulullah ﷺ bersabda, “Menuntut ilmu itu wajib atas setiap Muslim.” Ini menunjukkan bahwa belajar sepanjang masa juga merupakan perintah agama dan bentuk tanggung jawab sosial kita terhadap sesama.

Cara Menerapkan Belajar Sepanjang Masa dalam Kehidupan

Berikut adalah beberapa strategi untuk membiasakan diri menjadi pembelajar sepanjang masa:

1. Jadikan Rasa Ingin Tahu sebagai Modal Utama

Semua dimulai dari rasa ingin tahu. Ketika Anda tertarik pada suatu hal, luangkan waktu untuk membaca, menonton, atau berdiskusi tentang hal itu. Internet menyediakan ribuan sumber gratis untuk dipelajari.

2. Buat Jadwal Belajar Ringan

Tidak perlu belajar berjam-jam setiap hari. Cukup sisihkan 15–30 menit untuk membaca artikel, menonton video edukatif, atau mencatat pelajaran penting dari pengalaman harian Anda.

3. Ikut Komunitas atau Forum Diskusi

Lingkungan belajar sangat berpengaruh. Bergabunglah dengan komunitas yang memiliki semangat belajar tinggi. Diskusi dan kolaborasi akan mempercepat pemahaman dan membuat proses belajar lebih menyenangkan.

4. Dokumentasikan Proses Belajar

Menulis jurnal atau blog pribadi tentang apa yang Anda pelajari dapat memperkuat ingatan dan menjadi inspirasi bagi orang lain. Bahkan, dokumentasi itu bisa menjadi portofolio yang berguna di masa depan.

5. Jangan Takut Gagal

Salah satu penghambat utama dalam belajar adalah rasa takut gagal. Padahal, kegagalan adalah bagian dari proses belajar itu sendiri. Orang yang berhasil adalah mereka yang menjadikan kegagalan sebagai guru, bukan sebagai alasan untuk berhenti.

Belajar Sepanjang Masa dalam Konteks Keluarga dan Masyarakat

Pendidikan sejati dimulai dari rumah. Ketika orang tua menunjukkan semangat belajar kepada anak-anak, maka mereka pun akan tumbuh dengan semangat yang sama. Lingkungan yang mendukung pembelajaran, baik di keluarga, sekolah, maupun masyarakat, akan menciptakan generasi yang tangguh, kreatif, dan adaptif.

Masyarakat yang terus belajar adalah masyarakat yang maju. Mereka tidak cepat puas, terus mencari solusi, dan mampu menghadapi berbagai tantangan zaman. Oleh karena itu, membudayakan belajar sepanjang masa adalah langkah strategis untuk pembangunan bangsa.

Penutup

Belajar tidak berhenti ketika kelulusan diraih atau ketika pekerjaan sudah didapat. Justru saat itulah proses belajar sesungguhnya dimulai. Di era informasi ini, kita punya peluang besar untuk terus belajar, memperbaiki diri, dan berkontribusi lebih baik bagi lingkungan sekitar.

Mari kita jadikan belajar sepanjang masa sebagai gaya hidup. Karena sejatinya, siapa pun yang berhenti belajar, maka ia telah berhenti berkembang. Dan siapa pun yang terus belajar, ia sedang membangun masa depan yang lebih cerah.

Menjadi Guru, Sebuah Pilihan ?

Hari ini secara profesi saya memang dikenal sebagai seorang guru, tapi apakah ini adalah sebuah pilihan ? Atau apakah ini adalah satu-satunya pilihan ? atau kenapa harus muncul pertanyaan-pertanyaan seperti ini ? Ini adalah seutas refleksi saya sebagai seorang guru 6 tahun lamanya.

Guru bukan pilihan

Alih-alih menjadikan guru sebagai profesi, saya ingin kita menyadari bahwa guru adalah bagian yang melekat pada diri. Perhatikan bahwa kita pada dasarnya adalah pendidik, manusia memiliki fitrah untuk saling mendidik dan saling mengajarkan. Sebagaimana fitrah kita untuk berinteraksi satu sama lain sebagai makhluk sosial.

Baik, jika menurut struktur bahasa, dasar hukum, atau dalam berbagai referensi pendidikan, penggunaan kata 'pendidik' dalam penjelasan di atas mungkin kurang tepat. Manusia sekali lagi, secara fitrah selalu dan selalu ingin memberitahu informasi pada orang lain, sementara di sisi lain, manusia selalu merasa penasaran dengan apa yang terjadi disekitarnya.


Dua titik ini kemudian bertemu, dan terciptalah sebuah kondisi yang dinamakan pembelajaran. 

Maka, dengan berdasarkan kondisi ini, kita semua memiliki potensi yang sama untuk menjadi seorang guru. Di sisi lain, kita pun sama-sama memiliki potensi sebagai murid-murid yang selalu penasaran dengan hal-hal yang terjadi disekitar kita. Maka di sinilah kita akan mulai menyadari bahwa, kita semua adalah guru.

Sebuah bingkai bernama kebenaran dan kebaikan

Peradaban terus berkembang, dan dalam mempertahankan eksistensinya dalam kehidupan, sebuah peradaban membutuhkan para pejuang. Ya, para guru yang konsisten dengan memberikan nilai-nilai kebenaran dan kebaikan adalah para pejuang yang sedang mempertahankan eksistensi peradaban.

Sebagai pejuang, guru tidak hanya 'bertugas' untuk memberikan informasi dan wawasan seluas-luasnya. Mesti ada nilai-nilai yang turut di pindahkan, di bagi dan menginspirasi para penerus peradaban. Sebuah anjuran pada kebaikan dan teguran yang mencegah terjadinya kejahatan, akan menambah usia peradaban menjadi lebih kekal dan abadi.

Perhatikan bahwa sejarah telah mencatat, bahwa orang-orang hebat dalam peradaban umat manusia, lahir dari didikan guru-guru yang hadir di kehidupannya. Guru-guru ini sebagian diantaranya mungkin bukan ilmuwan, bukan para ahli, bukan profesor atau yang lainnya, terkadang guru-guru ini hadir dalam wujud musuh, anak kecil, rakyat jelata, dan bahkan binatang atau tumbuhan. 

Inilah sosok-sosok yang berhasil menjadi guru di mata manusia yang haus akan ilmu. Menjadi guru yang berkesan dan memberikan inspirasi serta dorongan untuk merubah peradaban menjadi lebih baik. 

Guru bukan sekedar profesi

Maka, bagian akhir dari catatan ini adalah bahwa guru bukan hanya sekedar profesi. Terlalu rendah pemahaman kita jika menganggap guru hanya sekedar pilihan pekerjaan, yang di gaji setiap bulan, dan menanti-nanti masa pensiun dengan segera. 

Guru adalah sebuah amanah dalam diri manusia, yang akan terus hidup dalam hati kita. Hati yang senantiasa berharap bahwa peradaban terus menjadi lebih baik, lebih berkualitas dalam kehidupan kemerdekaan secara nyata. Guru adalah jalan pejuang yang tidak pernah berhenti berjuang sampai tetes darah terakhir kita yang menyentuh tanah, mampu menyubur hijaukannya. 

Ini adalah sebuah misi mulia, yang tidak ada batasan tempat, waktu dan usia. Selama kita hidup, selama kita mampu menarik nafas, selama kita mengharapkan sebuah kehidupan yang lebih baik, maka kita adalah guru yang sedang dinantikan kehadirannya oleh peradaban.

Selamat hari guru, 25 November 2022

Buku Informatika untuk tingkat SMP

Mata pelajaran Informatika sudah berjalan hampir 4 tahun lamanya. Bahkan di kurikulum terbaru, Mata pelajaran Informatika menjadi mata pelajaran wajib se-rumpun dengan mata pelajaran eksak yaitu Matematika dan IPA. Untuk membantu pembelajaran, maka di terbitkanlah buku-buku oleh pemerintah. Berikut ini adalah beberapa buku informatika baik untuk guru maupun untuk siswa.

Informatika dalam Kurikulum Merdeka


Menteri Pendidikan, Nadiem Makarim mencanangkan perubahan kurikulum di masa pandemik. Dengan bertajuk program merdeka belajar, kemudian menyusul pengesahan kurikulum merdeka. Berbagai satuan pendidikan, mulai dari SD hingga Perguruan Tinggi menerapkan kurikulum ini. 

Banyak perbedaan yang terasa sejak penerapan kurikulum merdeka, khususnya yang dilaksanakan oleh para sekolah dan guru penggerak. Salah satu perubahannya adalah berubahnya status mata pelajaran informatika menjadi mata pelajaran wajib. Dan yang lebih menarik lagi, Informatika menjadi satu rumpun dengan mata pelajaran Matematika dan IPA.

Hal ini tentu menjadi sebuah nafas baru bagi dunia pendidikan di Indonesia. Sumber daya manusia dan perkembangan generasi muda yang melimpah adalah sebuah potensi yang besar dalam perkembangan bangsa ini. Kita pernah merasakan di kurikulum sebelumnya, mata pelajaran TIK hanya mencetak generasi konsumerisme yang hanya tahu cara memakai komputer saja. Tidak salah memang, hanya saja sangat disayangkan jika bangsa sebesar ini hanya dijadikan lumbung uang oleh para produsen IT di luar sana.

Keberadaan dan perubahan TIK menjadi Informatika akan menghadirkan sebuah generasi yang tidak hanya terampil dalam hal teknis, serta memiliki wawasan yang luas dan cakap dalam berfikir logis. Dimana di masa depan beberapa keterampilan ini penting untuk dimiliki oleh generasi muda. 

Satu keterampilan yang paling penting dan yang menjadi landasan dalam mata pelajaran Informatika adalah keterampilan berfikir komputasi. Dimana keterampilan ini akan melatih para peserta didik untuk berfikir dengan pendekatan matematis dalam upaya menemukan solusi paling efektif dalam kehidupan (Problem Solving). Menariknya, teknik berfikiri ini memiliki kelebihan yaitu penggambarannya yang sistematis berdasarkan langkah-langkah yang logis (algoritma). Kemampuan berfikir komputasi ini kemudian bisa di terjemahkan menjadi sebuah algoritma komputer yang bisa diterapkan pada program atau robot.

Maka informatika menjadi sebuah visi masa depan, bahwa generasi ini harus mampu bersaing di dunia global sebagai kreator dan sebagai inovator dalam upaya pemecahan masalah yang dihadapi oleh dunia, apapun teknologinya.

Buku Informatika

Pemerintah melalui menteri pendidikan lantas menerbitkan buku untuk mendampingi proses pembelajaran informatika di setiap satuan pendidikan. Berikut ini link download untuk buku-buku tersebut,

Buku Informatika kelas 7

Buku Siswa [Download]
Buku Guru [Download]

Buku Informatika kelas 8

Buku Siswa [Download]
Buku Guru [Download]

Sementara untuk buku informatika kelas 9 hingga saat ini belum tersedia.

Selain itu, untuk mendukung pembelajaran saya sendiri menulis buku pendamping khusus untuk digunakan
di SMP IT Baitul Ilmi. Dengan sentuhan nilai-nilai Islam serta kekhasan pondok pesantren, yang dengan semangat bahwa generasi muda muslim harus tetap bersaing dalam perkembangan teknologi di masa depan.

Umtuk mengakses buku informatik karya saya pribadi, silahkan untuk mengunjungi link berikut,


Demikian informasi terkait buku informatik di tingkat SMP pada kurikulum merdeka. Semoga bermanfaat.

Welcome to Pesantren Tahfidz

Assalamu'alaikum...

Di artikel sebelumnya, saya sempat bilang kalau akhir-akhir ini tengah menggeluti kembali dunia blog yang terabaikan. Fokus dengan niche review film, selain dengan niat untuk berbagi juga berharap semoga bisa menjadi penghasilan tambahan. Akan tetapi sayangnya, lagi-lagi, blog tersebut kini terbengkalai.

Sebuah Mimpi

Tahun 2010 silam saya sempat memiliki sebuah impian untuk tinggal disebuah mesjid, sambil kuliah, menjadi marbot, sambil menghafal Al Qur'an. Sebuah mimpi yang sampai saat ini terkadang masih terbayang, meski samar-samar ataupun tercampur dengan mimpi lainnya.

Ya seperti yang sering saya ceritakan, pengalaman 2010 - 2013 adlah pengalaman yang kurang menyenangkan. Mulai dari putus kuliah, sakit keras, hingga motivasi yang drop jatuh berantakan. Ah sebuah perjalanan yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya.

Akan tetapi, Allah berkata lain dan sepertinya, Allah masih menyimpan rapi mimpi-mimpi saya itu. Memasuki tahun 2016, saya ditawari oleh murobbi untuk mengabdikan diri di sebuah pesantren tahfidz.

Pesantren tahfidz ini sebenarnya sudah saya dengar sejak lama, sejak pembangunan yang dilakukan tahun 2015 silam. Yang tidak saya perhitungkan adalah adanya kemungkinan saya untuk bergabung disana. Bagaimana tidak, notabene tim asatidz  adalah para hafidz - hafidzoh dan para sarjana bergelar Lc, baik itu dari Mesir atau pun Yaman. Sementara saya sendiri hanya seorang muslim dengan ilmu ala kadarnya saja.

Meraih Hikmah

Tepat 1 Februari, saya mulai tinggal di pesantren dengan jobdesk yang sangat sederhana, hanya menemani santri. Meski tugas yang saya emban terbilang sangat sederhana, akan tetapi saya sangat mensyukuri kesempatan yang telah Allah berikan ini.

Saya tidak melihat ini sebagai pekerjaan, bahkan dari awal pun saya tidak mencari tahu tentang apapun terkait keuntungan secara materi, entah itu gaji atau apa pun lah. Cukup diperbolehkn tinggal di Mesjid pun sudah sangat bahagia.

Alhasil, dengan Job yang sederhana, banyak waktu luang yang saya miliki, dan waktu luang itu saya pergunakan sebaik mungkin untuk menghafal Al Qur'an.

Mungkin artikel ini terlalu cepat untuk di "curhatkan" karena saya sendiri baru tinggal 6 harii di pesantren ini, dan kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi sebelumnya.

Terakhir, saya hanya berharap do'a bagi siapapun yang membaca artikel ini, semoga Allah mengkaruniakan rahmat untuk kita semua.

Tambahan :

Artikel ini kesannya serius ya ? itu sebabnya karena lagi seneng....






Tambahan 2 :

Disamping aktivitas baru ini, saya masih menyimpan passion di blog. Meski tidak sering, secepatnya saya akan segera kembali nge blog, baik itu disini, ataupun di filmadiktif.blogspot.com

curhat tambahan ;

saya tidak lagi adiktif sama film lagi, semoga sekarang adiktifnya sama Al Qur'an saja.





Tambahan Terakhir, Serius :

Sebaiknya saya jangan dulu menyebutkan nama pesantrennya ya. Kenapa? Gak enak aja.












Udah gak ada tambahan lagi.